Skip to main content

Posts

AMSAL BAKUL KOPI BUDIMAN Sudah jelas, dalam teori pasar konsumsi dan ilmu gizi, kopi bukan kebutuhan pokok. Meskipun demikian, bila kopi istimewa diseduh dengan tepat dan diminum pada saat yang pantas, bukan menjelang tidur malam, kafein pada kopi akan membantu kinerja jantung. Aroma dan citarasanya akan membangkitkan kegembiraan. Dan, orang yang gembira selalu optimis dan berpikir positif. Tapi jangan sampai gegara membeli dan minum kopi, kamu jadi kekurangan kalori untuk bekerja dan beraktivitas. Kekurangan kalori bisa bikin jemari dan tanganmu tak kuat digerakkan untuk mendorong tombol atau tuas lampu sein kendaraanmu bila hendak belok atau pindah lajur. Intinya, bila engkau sudah mampu memenuhi angka kecukupan gizi yang dirumuskan WHO dan Kementerian Kesehatan RI untuk dirimu dan keluargamu, maka dikau pantas dan layak memesan kopi Kancabhumi yang istimewa itu. Sekali lagi, kopi bukan kebutuhan pokok. Maka, pastikan dirimu mampu membeli helm untuk mengendarai motor ...
Recent posts

BLUES TEPI SAWAH | Syarif Hidayatullah

Blues Tepi Sawah adalah sebuah proyek musik "seketika". Syarif Hidayatullah a.k.a Rif Dirtyblues merespon lingkungan dengan musiknya. Ia adalah seorang musisi yang kental dengan gaya blues mentah, retro, yang ekspresif dan spontan. Ia pun mengerjakan proyek blues ringan dan renyah yang dinamai musik lolypop bersama seniman Putu Sutawijaya dan Yusa Dirgantara. Mereka menamainya Lembaga Band "Ikhlas Experience". Lembaga band ini kerap melakukan aktivitas musik seketika di berbagai panggung yang kadangkala dibikin seketika pula. Sehari-hari mereka dapat ditemui di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Yogyakarta Lokasi di Desa Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo, DIY. Video dan editing suara: Olsy Vinoli Arnof - Kancabhumi Workshop

Kopi Arabika Merapi

Rumah Sangrai dan Seduh Panggilan Kancabhumi menyangrai salah satu kopi yang diolah semi-basah pada tanggal 21 November 2018. Kopi Merapi yang dibudidaya dan dikelola di Babadan II Paten, Dukun, Magelang. Untuk variestas yang sama dengan proses kering ( natural ), kopi ini masuk 10 besar dalam “ Best Indonesian Coffee 2018 ”. Kopi disangrai sedang dengan lama penyangraian 13 menit. Inti-kopi pecah pada menit ke-9 dan pembakaran dihentikan pada menit ke-11. Pada menit ke-13, kopi dikeluarkan dari pemasak dan diangin-anginkan selama 15 menit. Pada uji seduh pertama, 45 menit setelah penyangraian, aroma klengkeng pada kopi dan bubuk kopi tidak terlalu kuat. Cita rasa klengkeng dan dan kekentalan bercitarasa coklat yang tipis terasa cukup kuat. Setelah diuji seduh pada hari kelima, kopi ini menunjukkan karakter yang cukup kaya bagi kopi arabika yang tumbuh diketinggian 1200-an mdpl. Wangi klengkeng sangat kuat dan keasamannya tipis. Pada hasil uji-seduh tubruk, rasa coklat ...

Kopi Palintang Natural

Setelah Kopi Tipika Palintang Natural disangrai tanggal 23 November lalu, Senin 26 November Rumah Sangrai Kancabhumi melakukan uji-seduh kedua. Uji-seduh kedua ini dilakukan setelah aroma dan gas sisa penyangraian tidak terindera lagi. Uji-seduh kedua ini menggunakan dua cara, tubruk dan seduh saring. Seduh tubruk mengacu pada protokol SCAA dan seduh saring menggunakan cara terbaik menurut saya, rasio 1:12 dengan tiga kali siram selama 3 menit. Aroma kopi setelah tiga hari disangrai sangat mirip dengan Kopi Priangan Puntang yang diolah natural. Wangi manis karamel aren. Setelah diseduh, wangi karamel ini mekar menjadi cita rasa manis yang kongkret dan agak tipis. Cita-rasa yang lebih dominan adalah pahit teh hitam yang ringan dan diakhiri legi vanila serta agak manis tape (karena pengolahan pasca-panen natural). Aroma melati menjadi agak kuat walaupun tidak menyengat. Kopi ini tidak pekat sebagaimana karakteristik tipikal kopi-kopi yang tumbuh di dataran tinggi Priangan. De...

Palintang: Arabika | Natural | Micro-lot Coffee

Rumah Sangrai Kancabhumi baru saja menyangrai kopi keren: Arabica-typica, proses pascapanen natural, tumbuh di kawasan pegunungan antara Gunung Manglayang (Kabupaten Sumedang) dan Gunung Bukitpalasari (Kabupaten Bandung) di rentang ketinggian 1350 - 1428 mdpl menurut altimileter digital. Sebagai typica, kopi ini satu keturunan dengan Arabica Puntang yang sudah mendunia itu (dan telah mulai dibudidaya di dataran tinggi Priangan menjelang pembangunan Jalan Raya Pos - Deandels akhir abad ke- 18). Palintang ini bukan inferior terhadap Puntang. Ia adalah bagian dari perayaan kopi Nusantara yang dikelola dan diproduksi oleh komunitas-komunitas lokal. Saya suka karakter Palintang natural ini. Manisnya tidak giung, terasa jernih dan istimewanya, definisi citarasanya tidak ada dalam flavour-wheel yang diberhalakan para pelaku kopi masa kini.