Setelah
Kopi Tipika Palintang Natural disangrai tanggal 23 November lalu, Senin 26
November Rumah Sangrai Kancabhumi melakukan uji-seduh kedua. Uji-seduh kedua
ini dilakukan setelah aroma dan gas sisa penyangraian tidak terindera lagi.
Uji-seduh kedua
ini menggunakan dua cara, tubruk dan seduh saring. Seduh tubruk mengacu pada
protokol SCAA dan seduh saring menggunakan cara terbaik menurut saya, rasio 1:12
dengan tiga kali siram selama 3 menit.
Aroma kopi
setelah tiga hari disangrai sangat mirip dengan Kopi Priangan Puntang yang
diolah natural. Wangi manis karamel aren. Setelah diseduh, wangi karamel ini
mekar menjadi cita rasa manis yang kongkret dan agak tipis. Cita-rasa yang
lebih dominan adalah pahit teh hitam yang ringan dan diakhiri legi vanila serta
agak manis tape (karena pengolahan pasca-panen natural). Aroma melati menjadi
agak kuat walaupun tidak menyengat. Kopi ini tidak pekat sebagaimana
karakteristik tipikal kopi-kopi yang tumbuh di dataran tinggi Priangan. Dengan
keasaman yang tipis dan citarasa teh hitam yang terasa agak panjang membuat
Palintang Natural ini lebih kuat daripada kopi-kopi Priangan lainnya. Pada
hasil seduh saring, pahit teh hitam ini diawali dengan manis vanila namun tidak
muncul pada hasil seduh tubruk. Tetapi seperti umumnya seduh tubruk, begitu
kopi sudah hangat, asamnya menjadi lebih tajam daripada 2-3 menit setelah
diseduh.
Untuk
mencapai aroma dan citarasa seperti ini, saya menyangrainya selama 12 menit
lebih sedikit. Suhu yang dibutuhkan ketika memasukkan kopi-mentah 196 ˚C. Pada menit ke-9 inti biji kopi sudah mulai pecah
dan terus disangrai hingga menit ke 11 dan api dipadamkan. Pada menit ke-12
kopi dikeluarkan dan diangin-anginkan selama 10 menit.

Comments
Post a Comment